Mengenal Gifted Visual Spatial Learner

20150604_114643

Murid-murid perlu tahu tentang gifted, terutama bila ada temannya yang seperti itu. Guru-guru juga perlu tahu tentang ini, ada atau nggak ada muridnya yang sudah terdeteksi sebagai gifted. Karena itu, saya dan mbak Dati mencoba untuk mensosialisasikan permasalahan ini di sekolah anak-anak, melalui majalah yang diterbitkan sekolah mereka.

Agak susah juga menuliskan ini dalam space terbatas. Pengennya nulis tentang gifted children secara umum, gifted disinkroni beserta ciri-ciri dan segala kerumitannya, juga gifted visual spatial learner. Pengennya komplit plit terkait dengan apa saja yang sudah kami pelajari di “Universitas” Peduli Anak Gifted. Wah, kalau begitu bisa jadi satu majalah isinya hanya tentang bahasan ini doang… (Bahkan space untuk menuliskan sumber-sumber bacaan dari tulisan ini pun tidak ada cry emoticon. Sudah 2 lembar full soalnya… Gambar 3 dimensi Alle dan Rayya juga nggak bisa dimunculin…).

Kesulitan yang lain, bagaimana menuliskannya dalam bahasa yang bisa dicerna oleh anak-anak. Untuk itu, saya (eh… kami…) sampai ‘nyandhing’ majalah Bobo… Yang kebetulan di edisi bulan Juli 2014 ada artikel tentang anak berkebutuhan khusus. Tentu isinya jauh berbeda, tapi cara penyampaiannya itu lho yang penting…

Masalah lain, bidang kerja dan keilmuan kami tidak dalam kapasitas layak untuk menyebarkan pengetahuan ini. Kami ‘hanya’ kebetulan menjadi orangtua dari anak-anak ini, yang karenanya menjadi banyak membaca tentang permasalahan ini. Jadilah, sebagai legitimasi, tulisan ini ditulis oleh orangtua anak-anak gifted visual spatial learner.

☆★☆

MENGENAL GIFTED VISUAL SPATIAL LEARNER
Herlina Dyah Kuswanti dan Dati Fatimah

“Ibu, tadi ulangan matematikaku dapat 95. Teman sebelahku dapat 45, dan dia hanya tertawa saja. Aku heran, Bu, sama dia. Kadang nilainya bagus, tapi seringkali jelek. Padahal kelihatannya anaknya pintar lho… Omongannya ada isinya…” celoteh Ima pada ibunya.

Ada yang punya teman seperti teman Ima? Eh… siapa tahu dia gifted visual spatial learner. Apa sih itu?

Gifted bisa diterjemahkan sebagai ‘cerdas istimewa’. Orang dulu menyebutnya jenius. Tapi sebenarnya, seseorang yang gifted baru bisa disebut jenius bila dia telah menghasilkan prestasi atau karya istimewa tertentu, semacam Albert Einstein, Bill Gates, BJ Habibie, dsb. Untuk mengetahui gifted tidaknya seseorang perlu melalui tes psikologi.

Teman Ima ini sangat cerdas, tapi kok nilainya biasa-biasa saja, bahkan cenderung rendah?

Tidak semua anak gifted menunjukkan prestasi sesuai dengan kemampuannya. Ada beberapa hal yang mempengaruhi hal ini, diantaranya adalah gaya berpikirnya. Sekitar 2/3 anak gifted adalah visual spatial learner (VSL). Ini adalah anak-anak yang lebih bisa belajar melalui gambar (visual). Padahal, sebagian besar sekolah di Indonesia didisain untuk anak-anak auditory sequential learner (yang bisa menerima pelajaran yang disampaikan tahap demi tahap melalui suara).

Jadi begini, ketika anak-anak gifted VSL ini menerima pelajaran dalam bentuk suara, otaknya akan menterjemahkannya dalam gambar, kemudian barulah pelajaran itu bisa diterima. Bisa membayangkan seribet apa pengolahannya di dalam otak? Ini hampir sama seperti saat kita harus membaca tulisan berbahasa Inggris, sementara kita hanya bisa berbahasa Indonesia. Perlu waktu lama untuk mencerna tulisan itu, kan? Hal ini yang menyebabkan mengapa anak-anak ini cenderung lambat dalam menerima pelajaran, bila tanpa bantuan gambar.

Kelemahan dalam pemrosesan informasi verbal ini menyebabkan pikiran anak kemana-mana saat pelajaran diberikan. Dia jadi nampak seperti sedang melamun, tidak konsentrasi, ataupun mungkin sibuk berjalan-jalan di kelas sepanjang pelajaran. Apalagi didukung oleh energinya yang lebih banyak dari sebagian besar teman-temannya.

Karena anak-anak gifted VSL ini memiliki kemampuan pandang ruang (spatial) yang sangat baik, beberapa dari mereka seringkali lebih bisa menggambar dalam bentuk 3 dimensi daripada 2 dimensi. Kemampuan ini bisa muncul sejak mereka masih balita. Gambar mereka juga sangat detil. Hal ini sering menjadi masalah, mengingat yang diajarkan pada anak-anak SD adalah bagaimana menggambar dalam 2 dimensi, bukan 3 dimensi. Sementara anak-anak sebayanya gemar mewarnai, anak-anak ini malah sibuk membuat gambar 3 dimensi dan tidak suka mewarnai. Akibatnya, kelebihan ini bisa saja tidak terdeteksi oleh guru menggambar.

Cara berpikir anak-anak ini juga berbeda lho dari kebanyakan anak-anak lain. Mereka berpikir dari global ke detil, bukan berurutan tahap demi tahap dari detil ke global. Hal ini sering berdampak pada rendahnya nilai pada pelajaran-pelajaran hafalan, meskipun kemampuan menghafal mereka sebenarnya sangat baik. Ini bisa diatasi dengan belajar dari simpulannya dulu, sehingga mereka bisa membayangkan apa yang sedang dibahas secara keseluruhan, baru kemudian masuk ke bagian yang lebih detil.

Bagaimana mengetahui bila seorang anak itu adalah gifted visual-spatial learner?

Karakteristik berikut ini bisa membantu mengidentifikasi anak gifted visual-spatial learner. Namun, perlu diingat, ciri-ciri ini tidak semuanya akan muncul pada anak gifted visual-spatial learner:

  • Menyukai ide-ide dan tugas-tugas kompleks, meskipun seringkali gagal untuk tugas-tugas lain yang lebih sederhana
  • Secara fisik sensitif, seringkali memiliki gangguan pada pendengarannya dan memberikan reaksi yang tinggi pada suara keras
  • Memiliki keterampilan mendengarkan yang rendah, seringkali terlihat seperti tidak mendengarkan
  • Memiliki kesulitan untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah
  • Tulisan tangannya jelek dan seringkali berkesulitan untukk menjaga agar tulisannya tetap di dalam garis, atau menekan pena terlalu keras di kertas saat menulis
  • Menyukai lego, puzzle, jigsaw, game-game komputer, televisi, dan membua sesuatu
  • Menyukai seni dan/atau musik
  • Memiliki sense yang jelek tentang waktu
  • Sangat sensitif terhadap kritik
  • Secara emosional sangat sensitif
  • Memiliki kesulitan dengan mengeja/tabel waktu
  • Bisa mengingat jalan di suatu tempat setelah pergi ke sana meskipun hanya sekali
  • Memiliki imajinasi yang liar dan/atau mimpi-mimpi yang mengganggu
  • Gampang teralihkan
  • Sangat tidak terorganisir

Anak-anak gifted VSL adalah anak-anak jenius yang kreatif. Sayangnya, karena kesulitan belajar dengan metode auditory sequential, banyak diantara mereka yang kemudian drop out dari sekolah. Contohnya, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Steve Jobs. Banyak gifted VSL yang tidak teridentifikasi sebagai gifted, karena sebagian besar guru berpikir anak-anak gifted adalah anak-anak yang berprestasi secara akademik. Padahal belum tentu juga anak-anak yang berprestasi akademiknya adalah anak gifted.

Mendidik anak-anak gifted ini seperti mengendarai mobil Formula 1. Asyik ya, bisa ngebut… Tapi bila kita mengendarainya di gang sempit, pasti akan nabrak-nabrak. Maka yang diperlukan adalah melebarkan jalannya, atau kalau bisa ya mempelajari teknik bagaimana agar mobil formulanya tidak nabrak-nabrak.

Karena kebutuhannya yang berbeda dengan anak-anak lain, anak-anak gifted ini dimasukkan dalam kelompok anak berkebutuhan khusus. Bila tumbuh kembangnya terfasilitasi dengan baik, tentu anak-anak gifted ini bisa berprestasi jauh lebih baik. Kelak di kemudian hari, kecerdasan mereka mungkin akan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang, termasuk bisa mengharumkan nama Indonesia.

* Herlina Dyah Kuswanti dan Dati Fatimah, orang tua dari anak-anak Gifted Visual Spatial Learner
* Pengurus Parents Support Group for Gifted Children Yogyakarta

Sumber bacaan:
Mama Totik (2013). Mengenal anak gifted disinkroni. http://m.kompasiana.com/post/read/612152/2/mengenal-anak-gifted-disinkroni.html

Silverman, L. K. (2013). Upside~down brilliance: The visual-spatial learner. http://www.negifted.org/NAG/Spring_Conference_files/Upside%20Down%20Brilliance.pdf

Sword, L. (2001). I think in pictures, you teach in words: The gifted visual-spatial learner. http://www.giftedchildren.org.nz/national/article4.php

Trepanier, C. (2013). Gifted visual spatial learners are twice neglected. http://crushingtallpoppies.com/2013/06/30/gifted-visual-spatial-learners-are-twice-neglected/

van Tiel, J. M. & Widyorini, E. (2014). Deteksi & penanganan anak cerdas istimewa (anak gifted) melalui pola alamiah tumbuh kembangnya. Jakarta: Prenada.

Tulisan ini dimuat di Majalah Model’s – TK dan SD Model Sleman, Vol 1 Tahun III, April 2015.

Advertisements
This entry was posted in Artikel dari Kami, Artikel Tentang Giftedness. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengenal Gifted Visual Spatial Learner

  1. Nicky says:

    Saya bukan dari dan berdomisili di Jogja. Namun, apa boleh kah saya konsultasi atau gabung di komunitas ini? Banyak hal yg ingin saya tanyakan mengenai anak saya. Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s